SELAMAT DATANG DI BLOG SERBA-SERBI>MASJID NURUL IMAN DAN LPQ NURUL IMAN SIMPANG KIAMBANG LIMA KAUM BATUSANGKAR-LEMBAGA PENDIDIKAN ALQURAN MESJID NURUL IMAN SIMPANG MERUPAKAN SATU-SATUNYA LEMBAGA PENDIDIKAN ALQURAN YANG TERLETAK DI SIMPANG KIAMBANG KECAMATAN LIMA KAUM KABUPATEN TANAH DATAR-PROGRAMNYA (BELAJAR MEMBACA, TAHFIZ, ULUMUL QURAN,SENI BACA ALQURAN)DAN DIDIKAN SUBUH TERAKTIF SETIAP MINGGU-Kita berharap kepada masyarakat di Nagari masing-masing, marilah kita kembali meramaikan Masjid melalui kegiatan didikan subuh ini, terus belajar, belajar dan belajar agama guna keselamatan diri, keluarga, dan anak cucu kita generasi yang akan datang

Kamis, 17 September 2026

MENJAGA SILATURAHMI DI ZAMAN SEKARANG

Pada kesempatan ini, khatib ingin mengajak jamaah untuk merenungkan perkara yang sangat penting dalam kehidupan kita, yaitu menjaga silaturahmi.

Allah SWT berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

"Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan jagalah hubungan kekeluargaan."

Jamaah rahimakumullah,

Silaturahmi bukan hanya sekadar berkunjung ketika hari raya. Silaturahmi adalah menjaga hubungan, menyayangi, membantu, menghormati, dan tidak memutus persaudaraan.

Di zaman sekarang, kita memiliki banyak alat untuk berkomunikasi. Dengan telepon genggam, kita dapat menghubungi keluarga yang jauh dalam hitungan detik. Namun terkadang, semakin mudah komunikasi, justru semakin mudah pula terjadi perselisihan.

Satu pesan yang salah dipahami dapat menimbulkan pertengkaran. Satu komentar di media sosial dapat membuat hubungan menjadi renggang. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan.

Karena itu, Islam mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam berbicara dan menggunakan media sosial.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu."

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kadang kita berkata, “Saya tidak mau menghubungi dia karena dia yang salah.”

Tetapi silaturahmi mengajarkan kita untuk tidak selalu menunggu orang lain memulai.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

_"Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang apabila hubungan kekerabatannya diputus, ia tetap menyambungnya."**

(HR. Bukhari)

Maka, kalau ada saudara yang menjauh, kita dekati. Kalau ada yang menyakiti, kita belajar memaafkan. Kalau ada perselisihan, kita berusaha menjadi orang yang mendamaikan.

Sebab kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup.

Bisa jadi hari ini kita masih bisa bertemu saudara, tetapi besok Allah memanggilnya. Jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan: “Mengapa dulu saya tidak mau meminta maaf? Mengapa dulu saya membiarkan hubungan ini terputus?”

Jamaah rahimakumullah,

Mari kita mulai menjaga silaturahmi dari rumah.

Hubungi orang tua.

Sapa saudara.

Perhatikan tetangga.

Jenguk yang sakit.

Bantu yang membutuhkan.

Maafkan kesalahan.

Dan jangan mudah memutus persaudaraan.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang penuh kasih sayang dan menjadikan masyarakat kita masyarakat yang rukun dan damai.

Kiat-Kiat Menjaga Silaturahmi

Untuk bahan khutbah atau ceramah, bisa disampaikan 7 kiat sederhana:

1. Biasakan menyapa dan berkomunikasi

Jangan menunggu ada keperluan baru menghubungi saudara. Sekadar bertanya, “Apa kabar? Semoga sehat selalu,” sudah menjadi bentuk perhatian.

2. Saling mengunjungi

Luangkan waktu untuk bertemu, terutama dengan orang tua, saudara, dan kerabat yang sudah lama tidak ditemui.

3. Jaga lisan dan tulisan

Hindari ucapan yang menyakiti, termasuk komentar dan pesan di media sosial. Tidak semua hal yang kita pikirkan harus kita sampaikan.

4. Jangan mudah percaya berita yang belum jelas

Informasi yang belum terbukti bisa menjadi sumber fitnah dan memutus hubungan persaudaraan.

5. Belajar memaafkan

Jangan menyimpan kesalahan orang lain terlalu lama. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memilih menjaga persaudaraan.

6. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan bermusuhan

Berbeda pendapat, pilihan, atau cara pandang adalah hal yang bisa terjadi. Yang penting tetap menjaga adab dan persaudaraan.

7. Jadilah orang yang memulai perdamaian

Jangan selalu menunggu orang lain meminta maaf atau menghubungi kita. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menyambung silaturahmi justru tampak ketika hubungan sedang renggang.

Penutup 

“Jangan tunggu kehilangan baru kita menghargai. Jangan tunggu perpisahan baru kita meminta maaf. Selagi masih ada kesempatan, mari kita sambung silaturahmi, karena kita tidak pernah tahu siapa di antara orang-orang yang kita cintai yang akan lebih dahulu dipanggil Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar